Saturday, May 21, 2016

Babymoon : Jepang, Sebuah Permulaan

Sebagai pemilik paspor Hijau berlogo garuda, banyak Negara yang tidak bisa didatangi langsung. Untuk dapat masuk ke beberapa Negara tersebut, pemegang paspor hijau butuh visa, tak terkecuali Jepang.

Sebenarnya pemilik e-paspor dapat bebas dari mengurus visa, tetapi bukan berarti bisa langsung menuju jepang tanpa mengurus sesuatu, pemilik e-paspor diharuskan mendaftarkan paspornya ke kedutaan jepang tanpa biaya.

Sialnya paspor gw masih model lama, dan sangat tanggung untuk mengganti ke e-paspor karena paspor gw akan habis masa berlakunya di November 2016. Sehingga untuk mendapatkan ijin masuk jepang gw harus membuat visa di kedutaan besar Jepang.

                Pengertian Babymoon

Berkenaan dengan judul, bagi yang belum tau, maka gw akan menjelaskan apa itu babymoon.

Menurut link ini, babymoon adalah “ honeymoon sebelum melahirkan Si Kecil. Jika honeymoon dilakukan setelah menikah maka babymoon dilakukan sebelum atau sesudah melahirkan. Di masa inilah kamu dan pasangan dapat menikmati ketenangan di tempat-tempat eksotis sebelum menjadi orangtua dan kekurangan waktu tidur demi mengurus bayimu. “

Nah, kenapa trip ini dinamakan babymoon???, karena sebentar lagi Insya Allah member traveler gw akan bertambah, sekitar 3 bulan lagi si baby akan lahir. Dan memang waktu hamil 6 bulan ini adalah saat yang pas untuk traveling.

Oke, karena untuk mengajukan visa butuh persyaratan yang harus dipenuhi, maka ini adalah daftar persyaratannya yang gw sadur dari website kedutaan :

1.       Paspor
Sudah jelas kan, kalau keluar negeri butuh ini, ga usah dijelasin lagi paspor itu apa.

2.     Formulir permohonan visa, dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram)
Selanjutnya formulir permohonan visa.Formulirnya bisa di download di website resmi kedutaan Jepang.
Selanjutnya adalah foto yang ukurannya ga lazim buat orang Indonesia. Untuk foto ini, tips dari gw adalah fotolah di studio foto (bukan studio recording) yang sering melayani pembuatan foto untuk visa, seperti studio foto yang banyak tersebar di jalan sabang. Gw kemarin foto di studio yang namanya Jakarta Foto, prosesnya cepet ga ada setengah jam, dan biaya per orang Cuma Rp.40.000. tinggal bilang saja mau foto untuk visa Jepang, si penjaga toko akan tau dan mengerti keinginanmu, sungguh laki-laki yang pengertian.

3.       Foto kopi KTP (Surat Keterangan Domisili)
Ini juga sudah jelas. Tips dari gw, fotocopy di kertas A4 dan jangan dipotong

4.       Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa)
Nah dokumen ini buat yang masih berstatus mahasiswa (jadi skripsi udah sampe mana??).
Kalo yang udah kerja, mintalah surat keterangan kerja dari kantor dengan menggunakan bahasa Inggris.

5.       Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
Yang ini juga cukup jelas, print semua tiket yang udah lo booking dari keluar Negara lo sampe lo masuk ke Negara lo lagi, print juga bukti booking hotel dan transportasi selama di jepang

6.       Jadwal Perjalanan (semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang)
Jadwalnya bisa di download disini. Untuk tips dari gw, isi jadwal jangan terlalu heboh, jangan juga terlalu santai, pokoknya yang sedang-sedang aja. Misalnya dalam 1 hari lu tulis akan ngunjungin Disneyland dan Disneysea, ga logis kan dalam satu hari lu ngunjungin 2 tempat hiburan (kecuali lu kaya dan kesana Cuma buat pamer foto). Contoh yang wajar adalah dalam 1 hari lu ngunjungin tempat wisata di Tokyo bagian barat, kayak Shinjuku, Harajuku dan Shibuya. Dan besoknya lu ngunjungin Tokyo bagian timur kayak akibahara, asakusa, Tokyo tower.

7.    Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dlsb. (Bila pemohon lebih dari satu)
Ini akan susah kalo lu adalah Sun Go kong yang lahir dari batu, tapi kalo lu pergi sama istri/suami, ya kasih aja fotocopy Kartu Keluarga.

8.       Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan:
Dokumen ini bisa rekening Koran atau buku tabungan 3 bulan terakhir.

Kalo gw kemaren minta surat rekomendasi bank dan kasih fotocopy buku tabungan juga.
Surat rekomendasi ini biayanya beda-beda tergantung bank, gw kemarin minta di bank Permata dan kena Biaya Rp.50.000
Syarat permohonan di atas adalah visa untuk kunjungan wisata dengan biaya sendiri (pengennya si ada yg sponsorin).
Pemberitahuan untuk penyerahan dokumen

                PENGURUSAN VISA

Setelah semua lengkap, datanglah ke kedutaan besar Jepang, dalam kasus gw adalah di Jakarta yang ada di jalan M.H Thamrin , disamping EX Plaza Indonesia. Saran gw naik umum aja karena parkir susah, mau motor atau mobil agak susah. Tapi kalo lo tetep mau naik motor, bisa parkir di Deutsche Bank building atau wisma mandiri. Dan kalo mobil bisa parkir di Plaza Indonesia, lalu setelah itu kayang 100x berjalan kaki dengan jarak lumayan ke kedutaan.

Oh iya, semua dokumen harus diurutkan lengkap dari nomer 2-8, dan semua dokumen harus pake kertas A4, satu lagi, dokumen ga boleh di steples, jadi satuin pake paper clip.

Tips lagi ni untuk foto yang ditempel di form permohonan visa, tempelnya jangan pake lem, tapi pake double tape supaya ga copot-copot.

Nah ini pengalaman gw waktu ngurus visa :

1.       Gw dateng sekitar jam 9 lewat, dan antrian di depan gerbang Cuma ada beberapa orang. Gw ga bisa langsung masuk karena harus nunggu orang yang di dalem keluar ruangan.
2.       Setelah dibolehkan satpam masuk, lagi-lagi gw harus antri, tapi kali ini adalah antri untuk nukerin KTP dengan ID card.
3.       Setelah dapet ID card, lalu masuk ke ruangan di sebelah kanan, disini ada ruangan untuk pemeriksaan barang dengan X-ray.
4.       Ruangan pengajuan visa bentuknya kayak loket tiket di stasiun, setelah masuk pintu, lu harus ambil nomer antrian di mesin yang terletak di samping loket nomer 5. Ambil antrian yang berkode “A”. setelah dapet nomer tunggu di bangku-bangku yang disediakan.
nomer tunggu penyerahan dokumen / pengambilan visa
5.       Setelah nomer lu dipanggil bergegaslah menuju loket tersebut, lalu serahkan dokumen yang sudah lengkap tadi. Untuk pengajuan visa ini bisa diwakilkan kok, jadi ga perlu semua orang yang berangkat dateng. Setelah berkas dinyatakan lengkap oleh petugas loket, lu akan dikasih tanda terima yang akan digunakan untuk mengambil visa saat udah jadi, waktu tunggu pembuatan visa adalah 4 hari kerja.
#Tips : untuk yang berprofesi dokter atau tenaga lepas kayak bu istri, gw nulisnya tidak bekerja, karena si bu istri bukan dokter tetap di klinik tempat dia jaga. Jadi setelah berkonsultasi dengan petugas loket yang ramah, maka ditulislah tidak bekerja di kolom pekerjaan.
6.       Setelah melewati malam minggu dengan deg-degan karena khawatir foto yang diajukan salah, hari selasa siang sekitar jam 12.30 gw udah sampe kedutaan. Ternyata gw belom dibolehin masuk karena loket baru buka jam 1 siang. Jadi gw makan siang dulu dan balik lagi jam 1 lewat. Untuk pengambilan ini prosesnya sama seperti saat pengajuan dokumen, mulai dari antri,nyerahin ktp,dll semuanya sama
7.       Setelah nomer antrian gw dipanggil, gw langsung datang ke loket dan menyerahkan tanda terima (baca nomer 5). Si petugas langsung mencari paspor gw, saat itu deg-degan banget apakah visa gw bakal diterima. kalau ga diterima, lu gak boleh ngajuin visa lagi selama 6 bulan sejak visa ditolak, dan semua tiket yang udah gw bayar akan hangus.
8.       Si petugas kembali duduk di loketnya dan voila!!, dia langsung menunjukkan halaman visa di paspor gw dan istri dengan sticker visa yang sudah ditempel. Alhamdulillah, ucap gw dalam hati. Setelah itu gw langsung bayar biaya visa (yang saat itu) sebesar Rp. 330.000 tanpa PPN.
DOKUMEN LAIN
Setelah visa didapatkan, ada dokumen lain yang diperlukan. Yaitu surat rekomendasi terbang.

Surat rekomendasi terbang adalah rekomendasi dari dokter spesialis kandungan yang membolehkan bu istri yang sedang hamil untuk naik pesawat. Biasanya maskapai punya kebijakan sendiri untuk surat rekomendasi terbang ini.

Dalam kasus gw, Air Asia mengharuskan penumpang menunjukkan surat rekomendasi terbang saat kandungan berumur 28-34 minggu. Tapi, walaupun si baby masih 24 minggu saat gw nulis artikel ini, gw tetep bikin surat rekomendasi, buat jaga-jaga kalau diminta.

                #Info : untuk Air Asia, usia kandungan 35 minggu udah ga boleh terbang ya.

Surat rekomendasi ini gw dapet dari dokter spesialis di rumah sakit tempat bu istri check up kandungan tiap bulan. Oh iya, surat ini maksimal diminta 30 hari sebelum terbang. Kalo gw minta surat ini H-1 sebelum berangkat.
 
Surat rekomendasi terbang bagi ibu hamil
Akhirnya semua dokumen didapat dan gw beserta bu istri akan menjemput impian mengunjungi negeri matahari terbit.

Ngurus dokumen ini ribet ga wi??, Ya lumayan, tapi nikmati aja prosesnya.

                “If you can dream it, you can do it” –Anonymous-


Mudah2an pengalaman di atas bisa ngebantu pembaca ya, jadi sudah pada siap menjemput impian??.

NB : kalo ada pertanyaan bisa ditulis di komen blog ini atau dm gw di twitter. gw akan dengan senang hati membantu :)

No comments:

Post a Comment

comment anda adalah motivasi saya untuk lebih baik dalam menulis