Monday, April 25, 2016

7 hari, 4 negara, 3 jutaan (asean trip episode 6: Traveldrama : 24 Jam naik “Hell Bus”)

“Pake jaketnya bun, kayaknya mau hujan”.kata gw menyuruh istri memakai jaketnya.

Sore hari itu setelah 1 hari menikmati Vientiane yang sangat panas, langit mulai sangat gelap, kilat menyambar bersambung-sambungan, dan angin kencang menerbangkan debu-debu tebal di jalanan Vientiane, membuat kami yang berada di belakang mobil jemputan menutup mata dan hidung dengan tangan agar debu-debu yang diterbangkan angin tidak terhirup. Ya, memang ini disebut mobil jemputan, tapi ini adalah mobil bak terbuka yang diberi atap dan bangku di bak belakang, huffttt.

Benar saja, rintik hujan mulai turun saat kami memasuki terminal Dong dok atau Southern East Terminal. Membuat kami mempercepat langkah mengikuti supir jemputan kami yang sudah sangat cepet berjalan di depan kami sehingga kami hampir kehilangan jejaknya, coba dia juga bawa tas ransel dengan berat 10kg lebih, pasti akan lambat juga.

Saat memasuki bis,sang supir memberikan sebuah kantong plastic hitam, bingung dengan kantong itu, gw bertanya kepada si supir, tetapi ternyata dia tidak bisa bahasa inggris, dia menjawab dengan bahasa yang entah Vietnam atau laos sambil menunjuk-nunjuk sandal gw. Gw bingung dengan maksud perkataannya, apakah dia mau sandal gw??, ternyata tidak, gw diharuskan menaruh sandal di dalam plastic yang dia berikan, ah syukurlah karena gw ga harus melanjutkan perjalanan ini dengan nyeker.

Inside the bus
Setelah kelima penumpang bis tersebut duduk (atau tiduran karena kursinyanya adalah tempat tidur), bis mulai berjalan, lah ini Cuma berlima aja penumpangnya, mungkin akan mengambil penumpang lain di luar terminal pikir saya, seperti bis-bis di Indonesia. Setelah ngebatin pertanyaan tadi, seorang bule cowo bertanya ke gw dengan berwajah bingung, “ is it only us??” katanya, “well, maybe” balas gw. Tu bule gak bisa baca pikiran gw apa ya, dasar cowo, selalu ga bisa mengerti #ehh.

Gw terbangun karena bis berhenti, hujan pun juga sudah berhenti sejak menemani saat bis berangkat, jam menunjukkan pukul 10.30 malam dan bis berhenti di sebuah rumah makan. “Bun, makan dulu yuk”, kata saya kepada istri yang juga terbangun, bukan, saya tidak makan di rumah makan tersebut karena tidak terjamin kehalalannya, tapi kami makan bekal gepuk yang dibawa dari Indonesia, dan nasi putih yang dibeli sebelum naik bis ini. setelah selesai makan, gw melihat-lihat keadaan sekitar, jalanan antar Negara terlihat sepi, keadaannya mungkin seperti jalan lintas Sumatra, tapi dengan kondisi jalan yang lebih mulus dan tidak berlubang. Setelah semua penumpang dan crew bus selesai makan, bis melanjutkan kembali perjalanannya ke perbatasan Laos-Vietnam.

Di Rumah makan lintas negara


Gw kembali terbangun saat bis berhenti, gw melihat jam yang menunjukkan 2.30 dinihari, setengah mengantuk gw melihat keadaan sekitar dari balik jendela, lho kok berhenti di pegunungan berhutan lebat, gw melongok ke jendela sebelah dan hanya ada bis lain yang sedang berhenti juga. waduh, jangan-jangan kami diberhentikan pemberontak dan akan diculik, dengan perasaan was-was itu gw kembali tidur #laaahh.

Langit sudah agak terang saat gw terbangun, pagi sudah mulai datang. Dengan sedikit enggan, istri mengikuti keinginan gw untuk mmmm, anu, mmm….foto-foto di luar. Suasana sekitar sangat sejuk dan segar, karena berada di tengah-tengah pegunungan, suara gemercik air sungai terdengar di balik hutan yang lebat, ahh akhirnya sampai juga di perbatasan.



Muka baru bangun tidur dan belum tau akan terjadi derama

                Tertahan di Imigrasi

Setelah banyak selfie diiringi tatapan dan senyum orang-orang lewat, kami dipanggil untuk kembali ke bis dan membawa barang yang diperlukan untuk ke imigrasi. Saat itu hanya kami berdua yang berwajah melayu, sisanya orang bule dan ras Indochina. Di dalam perbatasan antrian sangat tidak jelas, tidak ada pengumuman dimana orang asing dan orang local harus membuat antrian, sehingga gw hanya terdiam di belakang antrian bule-bule yang sudah mengantri lebih dulu, walaupun loket sudah dibuka tapi antrian gw belum juga berjalan karena diselak oleh orang-orang local.

Selak menyelak antrian terjadi, persis seperti ibu-ibu kelaparan menyelak antrian prasmanan di resepsi pernikahan, crew-crew bus meminta para penumpangnya mengumpulkan paspor dan menyuruh mereka langsung menunggu di depan loket imigrasi. Banyak bule yang bengong dengan tatapan sinis, banyak juga yang masa bodo karena dia yang termasuk menyelak antrian. Untunglah kami juga ikut menyelak setelah crew bus kami mengambil paspor kami dan menaruhnya di loket imigrasi. Setelah paspor kami selesai di cap keluar imigrasi laos, kami diminta membayar kembali 10.000 KIP sebagai overtime fee karena kami keluar saat weekend, sungguh peraturan yang aneh dan unik walaupun resmi.

Suasana di dalam Imigrasi Laos
Setelah paspor di cap, kami diperbolehkan melintasi gerbang dan menunggu di semacam halte, waktu menunjukkan pukul 07.00 saat itu.

Bis demi bis lewat , hingga tiba giliran bis kami, ah sepertinya kami akan sampai di Hanoi siang hari, dan tulisan bule-bule luar negeri tentang 24 jam di bis antar Negara Vientiane-hanoi tidak terbukti.

15 menit berlalu, lho kok gak seperti bis lain yang hanya sebentar, bis kami tertahan dan terlihat beberapa petugas berseragam memeriksa secara mendetil hingga bemper dan kolong bis, waduh ada apa neh??,dalam hati gw bertanya.

Brakkkkkk!!!, seorang crew bus terlihat kesal dan membanting pintu bis, sepertinya negosiasi cukup alot, sudah 1 jam berlalu sejak kami menunggu di halte ini dan belum ada kepastian kapan bis yang kami tumpangi akan dibolehkan lewat. Kami semua mulai berwajah cemas.

Salah seorang crew bus menyuruh kami berjalan ke Imigrasi Vietnam dan menyuruh kami menunggu disana, tapi seorang penumpang bule bersikeras untuk menunggu karena semua tas dan barang bawaan kami ada di bis yang tertahan tadi. mulai terjadi perdebatan antara crew dan bule tadi, dan gw hanya menonton. akhirnya si crew mengalah,dan kami masih menunggu dengan kedinginan karena kabut mulai turun.

percayalah, ini jam 10 pagi

3 jam sudah berlalu, tanpa kepastian kapan bis kami diperbolehkan lewat. Keadaan imigrasi sudah mulai sepi karena semua bis yang sejak tadi pagi antri sudah lewat, sekarang hanya ada beberapa bis yang datang dari arah sebaliknya,yaitu perbatasan Vietnam masuk ke imigrasi laos. Gw mengobrol dengan salah satu crew bis yang sedikit-sedikit bisa bahasa inggris, ternyata petugas imigrasi laos meminta pelicin yang cukup besar, pfffttt.

Jam 11 siang, setelah seorang bapak berseragam yang sepertinya berpangkat tinggi beserta crew bus keluar dari ruangan di dalam imigrasi, akhirnya bis kami diperbolehkan lewat, dan semua penumpang kembali naik, ahhh akhirnya. Tapi kami terlambat sekitar 4 jam, lebih baik daripada kami tidak dibolehkan lewat dan rusak semua rencana liburan.

Gerbang pemeriksaa di imigrasi Laos
Sesampainya di imigrasi Vietnam ternyata drama belum berakhir.

Kami sedikit lega karena karena sudah sampai di imigrasi Vietnam, keadaan siang itu sangat berkabut dan cukup dingin walaupun sudah hampir tengah hari, wajar saja karena imigrasi berada di tengah pegunungan. Gw diminta turun dengan membawa semua barang-barang gw untuk diperiksa di bea cukai Vietnam, sebelum itu gw mendatangi loket imigrasi Vietnam.

Di loket terlihat seorang pria berseragam tentara yang menjadi petugasnya, gw menyerahkan paspor diikuti bule-bule penumpang lain, dan ternyata si petugas imigrasi meminta tips 1 USD, whatttt.

Bule-bule tadi kesal dan terlihat berdebat, bertanya untuk apa uang itu, salah seorangnya beralasan sudah membuat visa seharga 70 USD untuk masuk Vietnam, sebuah jumlah yang besar bagi gw. Gw pun ikut bertanya tentang paspor gw yang bebas visa dan hanya dijawab dengan menunjukkan selembar 1 USD yang si petugas ambil dari tumpukan uang USD yang cukup banyak. Dengan pasrah dan sebal gw menyerahkan uang 1 USD ke si petugas, gw sudah lelah dengan kejadian di imigrasi laos tadi, dan ingin cepat-cepat sampai di Hanoi, untuk beristirahat di hotel.

FYI : korupsi di imigrasi darat memang sudah banyak dibahas di tulisan traveler luar negeri, jika 1 orang asing diharuskan membayar 1 USD dan 1 hari bisa ada sekitar 100 orang asing, maka sebulan bisa sekitar 3000 USD yang dikantongi, dan untuk ukuran orang Vietnam yang 1 USD sekitar 20.000 VND(Vietnam dong), 60 juta VND sebulan adalah jumlah yang cukup besar. Pantas saja salah seorang petugas bisa menelpon dengan iphone yang entah seri 5 atau 5S.
Bule-bule yang satu bis dengan gw akhirnya menyerah dan dengan muka sebal merelakan 1 USD untuk si petugas. Setelah semua paspor kami mendapatkan cap masuk Vietnam, berikutnya kami berjalan ke bea cukai untuk memeriksakan tas kami, dan Alhamdulillah tidak ada drama disini, dengan lancar kami semua melewati bea cukai dan menunggu bis kami selesai diperiksa. Gw menyempatkan untuk menukar 100 Baht di satu-satunya money changer disini, dan mendapatkan 60rb VND, cukup rendah dari yang seharusnya 75rb VND, tapi tidak apa-apa karena gw gak punya uang pecahan kecil.

Sekitar 10 menit kemudian bis kami datang dan akhirnya drama di imigrasi ini selesai. Sisa 7 sampai 8 jam lagi untuk sampai Hanoi.

Bis meliuk-liuk di jalan menuju Hanoi, meninggalkan imigrasi di atas gunung. Pemandangan yang gw liat saat itu sangat spektakuler, pegunungan dengan lembah hijau yang asri, dan kabut tipis yang membuat suasana semakin syahdu. Pemandangan itu membuat gw sedikit terhibur atas kejadian drama di imigrasi tadi.

Bis berhenti di sebuah rumah makan, semua orang turun dari bis kecuali gw dan istri yang lagi-lagi memakan bekal gepuk dan sisa nasi. Setelah semua selesai makan yang kira-kira hanya 30 menit, bis melanjutkan perjalanan.

Pemandangan terus berganti selama beberapa jam, perkotaan dengan kemacetan berganti menjadi jalan tol dengan bukit-bukit kapur khas Vietnam, terus bergantian hinggal akhirnya gw sampai di Hanoi di terminal Bến xe Nước ngầm hampir pukul 7 malam.

Well, 24 jam di perjalanan ada benar dan salahnya juga. menurut gw dengan pemandangan yang cantik selama perjalanan tadi 24 jam tidak akan terasa. Perjalanan pun tidak 24 jam, hanya sekitar 15 jam gw berada di bis yang tidak membuat badan pegal karena bisa tidur terlentang.

Mungkin bule yang menulis postingan tentang 24 jam hell bus belum pernah merasakan naik bis kelas ekonomi tanpa AC yang jarak antar kursi sangat rapat saat musim mudik.


Next :




3 comments:

  1. duh, jadi kangen SEA trip gue :((

    ReplyDelete
  2. This is really interesting, You're a very skilled blogger.
    I've joined your feed and look forward to seeking more of your excellent post.
    Also, I have shared your website in my social networks!

    ReplyDelete

comment anda adalah motivasi saya untuk lebih baik dalam menulis