Monday, February 8, 2016

7 hari, 4 negara, 3 jutaan (asean trip episode 3: Bangkok yang ramah part 2)

Suasan Terminal Chatuchak
Gw melihat peta petunjuk arah dari stasiun-stasiun BTS dengan serius, kelelahan karena berjalan selama hampir 30 menit dengan menenteng ransel yang hampir 10kg dari terminal bis chatuchak ke BTS Mochit membuat gw agak bodoh dalam menentukan arah, gw terus mencerna gambar yang ada di depan gw sampai sebuah sentuhan manja menepuk pundak gw, setelah itu terdengar suara lirih dari seorang bapak-bapak “where are you going??”, huh, bisa-bisanya gw tergoda sentuhan seorang pria.

Dengan ramah gw menjawab “ MBK Center”, lalu si bapak kembali menjawab “ you must go to national stadium BTS, but before you need to transit at Siam, the train is above you, so you must use elevator”. “thank you” jawab gw. Wow, ini keramahan ketiga yang gw dapet dari warga Bangkok, ga pake ditanya si bapak langsung memberi gw penjelasan lengkap.

Dengan hati lega gw melanjutkan perjalanan menghabiskan setengah hari di kota yang ramah ini. Hari ini rencananya si belanja jendela atau window shoping doang.hahaha. maklum backpacker.

Keramahan ke-4 :
Setelah menitipkan ransel di tempat penitipan tas gratis (ini yang gw suka, gratissssss) di lantai 6 MBK center, gw dan istri melihat-lihat mall ini. MBK center ini kalau di Indonesia mungkin bisa dibilang mirip ITC, dengan kios-kios yang lebih murah dari mall-mall di sekitaran area siam. Untuk yang mau belanja oleh-oleh disini tempatnya. kaus bergambar atau bertuliskan Bangkok dengan berbagai macam motif dibanderol sekitar 100 sampai 250 baht, tergantung kualitas. Untuk gantungan kunci gw ga nanya-nanya, banyak juga barang-barang lain seperti hiasan dinding, pashmina, dan patung-patung kecil untuk hiasan meja. Disni tempat favorit orang Indonesia buat belanja, gw melihat dan mendengar beberapa kali bahasa Indonesia disini, kebanyakan si rombongan ibu-ibu yang ikut tur.

Setelah puas muter-muter MBK, gw berlanjut ke mall-mall lain di area siam, seperti siam paragon, siam discovery, siam center dan siam square. Mall-mall ini seperti mall Grand Indonesia kalau di Jakarta, banyak toko-toko bermerk terkenal mengisi mall ini. Disini lagi – lagi gw (window) shopping dong.

Puas mengitari dan menuntaskan rasa penasaran gw dengan kawasan yang paling direkomendasikan turis-turis Indonesia ini, gw akhirnya berniat belanja dan mencari oleh-oleh, yaitu kopi-kopian atau teh yang Cuma ada di Thailand. saat itu gw udah cape jalan dan bingung ga ketemu sama yang namanya supermarket (atau gw lier yg ga ngeliat itu supermarket), dari luar pintu masuk mall keempat yang adalah harapan terakhir gw untuk nyari oleh2, yaitu siam square, gw nengok-nengok dan menerawang dari depan pintu masuk ke dalam mall untuk melihat apakah ada supermarket di dalem situ.

Melihat muka gw yang kucel seperti gembel terminal senen nengok-nengok ke dalem mall, seorang ibu-ibu menegur gw.”where you going??”, gw langsung bertanya ke dia apakah ada supermarket di dalem. Dan, ya namanya emak-emak, dia langsung nyerocos dengan bahasa inggrisnya yang berlogat Thailand, dia ngomongin mulai dimana aja supermarket, sampe kasih tau gw barang-barang bagus yang harus gw beli di Bangkok beserta tempatnya, saat itu gw speechless, campur aduk antara meraba-raba (maksud kata-kata si ibu, bukan badannya) atau ga ngerti apa yang dia omongin, sampai akhirnya gw tanya lagi dimana supermarket terdekat, dan dia jawab di basement MBK center. Ya walaupun gw rada bingung sama kata-kata si ibu, tapi dengan keterbatasannya dia membantu gw tanpa gw tanya duluan. Thanks ibu-ibu misterius.



Keramahan ke-5 :
Matahari mulai kembali ke peraduannya, meninggalkan gelap di langit Bangkok sore itu, dan itu pertanda gw harus kembali menuju terminal bis chatuchak untuk melanjutkan trip ini ke Negara selanjutnya, Vientiane.Gw kembali menaiki BTS ke stasiun mochit, sesampainya disana gw menunggu di halte untuk naik ke bis A1 yang akan mengantar gw ke terminal bis chatuchak. Tidak sampai 10 menit sebuah bis datang, dan langsung mendekati bis tersebut. Sesampainya di pintu masuk, si kenek yang ternyata ibu-ibu ngelarang gw masuk, gw langsung tanya “you go to chatuchak bus terminal?”, ternyata si ibu ga bisa bahasa inggris, waduh gw langsung bingung.

Sementara gw kebingungan, si ibu kenek berbicara dengan bahasa inggrisnya yang terbatas, dia bilang “bus” sambil membuat isyarat angka dengan tangannya. Gw saat itu masih bingung, tapi si ibu kenek masih tetep membantu gw dengan sabar, walaupun bis nya sudah di klakson oleh mobil-mobil dibelakangnya. Lalu dia ke dalam bis mengambil secarik kertas bertuliskan angka,lah kok dia malah ngasih nomer, entah itu nomer telponnya atau apa. Sampai akhirnya dia ngasih penjelasan dengan bahasa inggris per kata, “bus”, “chatuchak”. Oooo, akhirnya gw ngerti, yang dia kasih adalah nomer bis yang bisa gw tumpangi ke terminal chatuchak.

Gw langsung bilang “thanks” ke si ibu kenek, dibalas oleh senyuman oleh si ibu kenek. Selanjutnya dia langsung menutup pintu bis dan si supir langsung tancap gas. Gw senang dan bersyukur dibantu sampai gw ngerti harus naik apa dan kemana. Coba kalau di terminal pulogadung dan lo nanya ke kenek metromini, pasti langsung disuruh naik ke bisnya dia dan diturunin di antah berantah sambil bilang harus nyambung ke bis lain.
tiket bis ke Nong Khai

Keramahan ke - 6 :
Waktu menunjukkan pukul 8 malam lewat, gw udah menunggu di line yang sudah tertulis di tiket bis. Seorang bapak-bapak berseragam ngeliat tiket gw dan menyuruh gw untuk mengikutinya, gw langsung ga mau lah, gw berpikiran si bapak ini akan nyuruh gw naik bisnya dan menagih uang di dalam bisnya, lalu menurunkan gw di perempatan jalan kota tujuan gw, nong Khai, dan nyuruh gw naik bis lain. Pokoknya lengkap lah pikiran jelek gw ke bapak tadi. Saat gw tidak menuruti keinginannya, si bapak tadi langsung menggerutu dalam bahasa Thai, gw tidak menghiraukannya dan duduk di bangku yang tersedia di line bis yang sudah tertulis di tiket.

15 menit sebelum keberangkatan, masih belum terlihat tanda-tanda bis yang akan gw naiki muncul, gw mulai bingung lagi. akhirnya gw tanya ke mas-mas berseragam lain, si mas itu nunjuk ke arah belakang bisnya ke sebuah line bis yang lain, tepat ke arah si bapak yang di gak gw gubris. Gw bengong dengan apa yang dia tunjuk, lalu dia nyerocos dalam bahasa Thai yang membuat gw tambah bingung. Gw kembali bertanya ke dia untuk memastikan dimana bis yang akan gw naiki parkir dengan menyebut “Nong Khai” beberapa kali, dia masih nunjuk-nunjuk ke arah tadi dengan bahasa Thai nya.

Gw akhirnya memberanikan diri melangkah ke arah yang dia tunjuk, dan ternyata bis gw parkir di line yang berbeda dari yang tertulis di tiket. Selang beberapa lama, si bapak yang gw acuhkan tadi datang dan mengobrol dengan orang-orang disitu. Gw akhirnya tau maksud si bapak tadi, ternyata dia mau nolong gw dengan menunjukkan dimana bis gw parkir, hehe. Gw yang merasa menyesal akhirnya naik ke bis, dan duduk di bangku yang sudah tertulis di tiket. gw duduk dengan memikirkan pelajaran berharga  yang baru saja gw dapat, yaitu jangan selalu su’udzon (berprasangka buruk) dengan orang lain.

No comments:

Post a Comment

comment anda adalah motivasi saya untuk lebih baik dalam menulis