Skip to main content

7 hari, 4 negara, 3 jutaan (asean trip episode 2: Bangkok Yang Ramah)

Jrekk, suara stempel visa milik petugas imigrasi Thailand menghantam salah satu halaman paspor gw. Fuihh, gw bernapas lega, keringet dingin di kening gw pun hilang. Baru kali ini gw menghadapi petugas imigrasi yang cukup ramah, yang menanyai gw tanpa bentakan.  Legaaaaa, setelah sebelumnya berdebar debar karena takut tidak bisa melanjutkan perjalanan karena tidak diijinkan masuk Bangkok. Inilah keramahan pertama yang menyapa gw di Bangkok.

Sebelumnya…..

ผู้โดยสารที่รักของเราเร็ว นี้จะลงจอดที่สนามบินนานาชาติดอนเมืองขอขอบคุณสำหรับการเลือกแอร์เอเชีย

ga ngerti???, sama gw juga…BTW itu kira2 pengumuman dari pramugari Air Asia dalam bahasa Thailand yang membangunkan gw. Iya, gw ketiduran setelah kecapaian karena hectic di bandara. Tapi untungnya setelah bahasa thai tadi, si pramugari akhirnya mengumumkan dalam bahasa inggris yang kira-kira mengucapkan terima kasih karena sudah terbang bersama Air Asia.

Jam menunjukkan hampir pukul 23.30 saat pesawat mendarat di bandara Don Mueang, Bangkok.  Pesawat parkir di tempat yang tidak memakai garbrata, sehingga para penumpang harus menaiki bis untuk menuju terminal kedatangan. Disini gw kesel karena ada bule serabat serobot pas naik bis, tapi masih bisa gw tahan untuk negor dia. Eh pas turun dari bis si bule ini serabat serobot juga, anjirrrr, langsung aja hampir gw tekel gunting tuh bule, tapi gw kembali menahan nekel si bule karena dia lebih gede dan lebih keker badannya dari gw, untung lo lebih gede, kalo ga…. ah sudahlah.

 Mata gw mulai mencari duit jatuh dimana pojokan buat rebahan menghabiskan malam saat mulai memasuki gedung terminal. Tapi niat itu gw urungkan karena gw belom melewati imigrasi. Sesampainya di imigrasi gw kaget karena antrian yang cukup panjang, padahal saat itu sudah hampir pukul 12 malam, dan kalo kata slank kamu harus cepat pulang.
antrian di imigrasi Don Muang Airport
Gw mengantri dengan sabar dan santai dengan paspor dan arrival card di tangan. Saat giliran gw,mmmm, beginilah kira-kira percakapan antara seorang pria dengan wanita si petugas imigrasi yang ramah, yang disingkat WPIYR.

WPIYR   : hello,

Gw         : hai..*ngasih paspor dan arrival card*

WPIYR   : where you stay??. You must write where you stay

Gw         : mmm, actually we (red : saya dan istri, bukan saya dan si petugas imigrasi) have plan to stay at this airport tonight, and go with bus tomorrow to Vientiane.

WPIYR   : but you must stay and write some address

Gw         : we don’t have hotel to stay tonight

WPIYR   : you must show me your hotel at Bangkok to enter this city

Gw mulai keringet dingin disini, tapi si petugas imigrasi masih ramah. Gw akhirnya punya ide buat menunjukkan semua hasil print out booking hotel dan pesawat, dan juga itinerary yang sudah gw buat.

Gw         : eeee, this is our hotel at Hanoi, and this is our flight ticket to KL, and this is my itinerary

WPIYR   : hmmm, so you will go to Hanoi??, and this is your ticket to Jakarta??. You will take bus??

Gw         : yes, that’s correct mam.

WPIYR   : okai…

Jreekkkk, akhirnya si stempel visa mendarat di paspor, gw lega. Selanjutnya tinggal istri. Gw kembali berdebar-debar karena si istri kurang lancar bahasa inggrisnya. Tapi si petugas imigrasi yang ramah tadi sepertinya tau kalau si istri pergi bersama gw. Jadi langsung lancar saja, fuihhhhh. Akhirnya kami menghabiskan malam di bandara. Untuk spot-spot tidur akan gw ceritakan di postingan terpisah ya..

Keramahan kedua :

Matahari mulai menampakan ronanya, pagi mulai menjelang di Bangkok, dan gw sudah bersiap-siap di halte bis A1/A2 untuk menuju Chatuchak (Bangkok bus terminal) dan membeli tiket bis ke nong Khai.  Tepat pukul 7.30 bus A1 yang pertama datang. Banyak penumpang yang sudah menunggu langsung menyerbu bus tersebut. 30 menit kemudian bis sampai di BTS Mochit, dan semua penumpang turun, yang tersisa Cuma supir, kernek, satu orang cewek, dan 2 orang kebingungan.
Suasana di dalam bis A1
Kalau kosong seharusnya bis akan langsung kembali ke airport. Tapi si supir dengan baik hati mengantarkan ketiga penumpangnya ke terminal bis. Coba kalo naik metromini, pasti akan langsung disuruh turun dan bilang sewa habis sampai disini tanpa kata perpisahan.sungguh, lelaki yang tidak punya perasaan!!.

Sesampainya didepan terminal seperti turis-turis lain (atau cuma gw), gw berfoto-foto ria tanpa menghiraukan bule-bule yang sedang asyik saja berjemur sambil membaca buku di rerumputan depan terminal. Ini seriusan, ada 2 orang bule yang asik saja menggelar alas dan tiduran disitu sambil berjemur dan baca buku. Mungkin di negaranya itu hal yang lumrah, tapi disini??, mungkin juga hal lumrah si.
Norak !!!!!! , bodo amat, gw turis
Gw masuk ke terminal yang cukup megah ini, terminal jauh dari kesan kumuh dan menyeramkan, keadaannya bersih dan tidak ada calo yang menarik-narik penumpang, kita harus benar-benar belajar agar pengelolaan terminal bisa seprofesional Thailand, jadi banyak turis semakin nyaman. Gw melihat-lihat di lantai pertama, sepertinya tidak ada loket yang menjual tiket ke tujuan ke utara, yang banyak adalah menuju Thailand bagian selatan, dan tidak ada yang ke barat karena takut mengganggu biksu Tong yang sedang mencari kitab suci. Setelah membaca papan petunjuk gw menuju lantai 2 untuk mencari loket tiket ke kota tujuan gw, Nong Khai.

Sesampainya di lantai 2, gw celingak celinguk kebingungan, seorang satpam bertanya ke gw dengan bahasa Thai yang membuat gw tambah bingung. Si satpam bicara lagi, kali ini dia bilang go, gw kembali bingung, apakah gw disuruh pergi, atau disuruh mulai lari marathon. Akhirnya gw mengerti maksud si satpam yang bertanya kemana tujuan gw, lalu gw bilang Nong Kai (tanpa H), si satpam bingung lagi, dan gw juga bingung karena si satpam bingung, sehingga banyak kebingungan disini. Setelah gw bilang Vientiane si satpam akhirnya mengerti, dan saat ada seorang lewat yang gw tahu adalah sales tiket di salah satu loket, si satpam bilang dalam bahasa thai ke orang tersebut dan nyebut-nyebut Vientiane. Gw disuruh keatas untuk mengikuti sales tersebut.

Gw kira kebingungan akan berakhir dan dengan lancar gw akan mendapatkan tiket ke Nong Khai. Tapi kebingungan masih berlanjut. Di depan konter tiket si sales tiket kembali nanya gw mau kemana, gw kembali jawab Nong Kai(tanpa H), si sales bingung dan celingak celinguk ke temennya, gw juga bingung lagi dan lihat-lihatan sama istri. Gw bilang Nong Kai, lalu Vientiane, lalu bilang border, si sales akhirnya mengerti, dan berbicara dengan temannya โอ้ก็ nong kai จะเปิดหนอง Nong Khai. Kebingungan gw juga akhirnya terjawab kenapa ga ada orang yang ngerti pas gw bilang Nong Kai, ternyata gw menyebut Kai tanpa H, sedangkan seharusnya pake H, dengan penyebutan yang benar Nong Khai.

#tips : kalau ingin ke Vientiane, akan lebih murah jika ngeteng ke Nong Khai, lalu melanjutkan dengan bis dari Nong Khai Ke Vientiane

Semua kebingungan tadi membuat gw lapar dan haus, sehingga setelah mendapatkan tiket bis, gw duduk-duduk menyusun rencana akan kemana lagi, karena tidak ada rencana khusus selain menghabiskan waktu di area Siam.  Gw membuka peta untuk memahami peta tersebut, karena gw tidak tahu naik bis apa untuk kembali ke BTS Mo Chit, maka gw memutuskan untuk berjalan, walaupun jarak antara terminal dan BTS cukup lumayan.

……


Keramahan di Bangkok akan berlanjut di episode selanjutnya….

suasana ruang tunggu di dalam terminal chatuchak

Loket penjualan tiket

Comments

Popular posts from this blog

Tips Ngegembel : Tidur di Bandara part 2 (KLIA 2, DON MUEANG, HANEDA)

First Family Travelling : Pengalaman Vaksin di Kuala Lumpur

Babymoon : Jepang, Sebuah Permulaan