Monday, October 26, 2015

Beauty of Indonesia Series : Hutan alami di daratan Jakarta

      Gerbang dari kayu menyambut kami, suasananya cukup sejuk tapi lembab khas hutan. Bukan, ini bukan gerbang konohagakure,tapi ini adalah hutan mangrove di daerah pantai indah kapuk atau biasa disebut taman wisata alam Magrove PIK, mungkin juga hutan terakhir yang ada di daratan Jakarta. Setelah membayar biaya masuk 25 ribu rupiah per orang, selang beberapa langkah, di sebelah kiri berdiri sebuah masjid dengan interior yang cukup unik, mesjid ini terbuat dari kayu dan berada di atas air. Jadi kalo saya solat disini, saya solat di atas air, seperti orang sakti jaman dahulu.

Kami melanjutkan melangkah hingga terbentang parkiran mobil dan motor didepan kami, di ujung ada pos pemeriksaan tiket yang katanya tas ikut diperiksa karena tidak boleh membawa makanan, tapi saat kami datang, si penjaga hanya melihat isi tas tanpa memeriksa kedalamnya. Tau gitu bawa makan siang, karena disini makanan tidak jelas harganya.
Gerbang Masuk

Tiket
Setelah melewati pemeriksaan, kami mendapati persimpangan pertama, lurus ke arah jembatan besar, atau kekanan ke arah kantin, penginapan, pantai, dll. Kami memilih ke kanan.setelah beberapa langkah, di kiri kanan ada penginapan yang paling mahal dengan dua kamar dan kamar mandi dalam, lalu setelah itu ada coffee shop dan kantin yang masih sepi.

Kami melangkah ke arah kiri melewati jalan setapak ke arah penginapan tenda, tapi menurut saya ini adalah peninapan semi permanen dari kayu yang bentuknya seperti tenda. Di sebelah kanan kami ada lapangan dengan playground yang berisi mainan seperti ayunan dan lain-lain, di samping-samping lapangan tadi ada tenda-tenda tersebut. Kami melanjutkan melangkah di jalan setapak tersebut sampai jalanan tanah berganti menjadi jalan setapak dari kayu, disini ada persimpangan lagi, lurus atau ke kanan. Kami memilih lurus karena kami selalu berdoa kepada Allah untuk menunjukkan jalan yang lurus.

Di jalan setapak lurus tadi terdapat tenda-tenda lagi di sebelah kirinya, tenda-tenda kayu tersebut kelihatan kusam dengan cat coklat yang mulai mengelupas, dan penampakan belum terjadi debu yang mulai menutupinya, seperti tidak dibersihkan setiap hari atau sudah tidak ditinggali lama, entahlah Cuma pengelola dan tuhan yang tahu. Di sebelah kanan jalan setapak tadi ada pohon mangrove kecil yang baru ditanam dan label siapa orang atau perusahaan yang menanamnya, suatu promosi CSR yang bisa membuat dianggap cinta lingkungan.

Kami terus berjalan sampai ujung, dan yang kami dapatkan adalah jalan buntu dan sebuah penginapan besar berlantai dua yang di lantai bawahnya ada ruang pertemuan. Kondisi penginapan ini kotor, baik oleh debu maupun oleh sampah plastik bekas makanan kecil dan minuman botol, untungnya sampah-sampah tersebut ada di dalam tong sampah yang sudah terlalu penuh. Sunggguh sebuah kesadaran membuang sampah yang sangat baik, walaupun pengelola benar-benar lupa atau pura-pura lupa untuk mengangkat sampah tersebut, entahlah, lagi-lagi hanya Tuhan dan pengelolanya yang tahu.

Dari penginapan besar tersebut terhampar pamandangan yang J.U.A.R.A, pemandangan berupa hutan mangrove dengan jembatan besar di tengahnya. Ah, sungguh tenang suasana tersebut, apalgi ditambah angin sepoy-sepoy yang berhembus, menambah segar dan sejuk suasana. Setelah beberapa foto, kami balik kanan menyusuri jalan lurus tadi, sehingga tiba di persimpangan yang tadi, karena penasaran kami menyusuri jalan setapak yang tadi kami acuhkan.

Beberapa langkah, 3 kali selfie dan 1 kali melihat notifikasi di hp akhirnya kami menemukan satu tempat yang romantic untuk foto prewed, kami langsung membuka baju kamera di HP untuk mencari sudut terbaik dalam berfoto. Tak bisa berlama-lama karena tempat cantik itu sudah mulai ramai oleh pasangan-pasangan yang belum halal untuk berfoto juga. kami melanjutkan melangkah, melewati persimpangan, kami mengambil arah ke kiri dan yang kami temui adalah “tenda” kayu yang berjajar seperti tadi, kamipun terus melangkah sampai ujung.

Diujung jalan ada gazebo yang juga kotor oleh debu dan cat yang sudah memudar, sungguh suatu fasilitas yang sia-sia, padahal suasana di gazebo tersebut sangat tenang. Di samping gazebo tersebut terdapat dermaga, dan disini adalah salah satu tempat yang fotogenik juga, kami mengambil beberapa kenang-kenangan, dan kali ini tanpa antrian pasangan-pasangan non-halal lainnya.
Gazebo yang tenang, tapi tak terawat :(

Dermaga
Setelah puas menikmati keindahan alam dan berfoto, kami melanjutkan melangkah kearah pertigaan tadi. Setelah sampai pertigaan tadi kami memilih jalan lurus dan ternyata kami kembali ke daratan, Alhamdulillah kami tak sampai lupa daratan. di ujung jalan ini ada balai pertemuan yang bisa menampung banyak orang, kami berhenti sejenak di kursi di bawah pohon rindang, cuaca saat itu sudah mulai terik dan cukup menguras stamina kami.

Kami melanjutkan langkah ke arah pantai, setelah beberapa langkah di sebelah kiri kami terdapat dermaga besar untuk menaiki kapal boat dan kayak yang harga sewanya cukup mahal. Karena antrian yang cukup panjang, kami mengurungkan niat untuk naik ke kayak sehingga kami melanjutkan melangkah. Di sebelah kanan jalan besar yang kami telusuri, terdapat banyak jalan setapak yang kiri kanannya cukup rimbun oleh pohon mangrove, kami tidak menelusuri jalan setapak tadi karena kami ingin menemukan jembatan besar yang tadi menjadi latar berfoto kami di awal.
Dermaga Perahu dan Kano
Jalan Setapak menuju jembatan besar
Jembatan Besar
Kami mengikuti petunjuk arah menuju jembatan ke arah kiri, sehingga kami kembali menyusuri jalan dari kayu lagi. setelah beberapa langkah, kami kembali menikmati suasana sejuk di salah satu bangku kayu yang banyak terdapat di pinggir jalan setapak tadi. Sayang seribu sayang, suasana indah yang ada dirusak oleh “monyet-monyet” pembuang sampah yang tidak bertanggung jawab, sehingga tanah di bawah jalan kayu ini banyak bungkus plastic makanan kecil dan minuman, bahkan ada “manusia bodoh” yang meninggalkan plastic sampah begitu saja dan menggantungnya di jalan setapak ini. Sungguh perilaku yang tidak mencerminkan manusia beradap dan berpendidikan.

       "What is the point of your high education, if you let uneducated people to collect the garbage you throw away on the street"

Kami kembali melangkah ke arah jembatan sampai tiba-tiba sebuah persimpangan menggoda iman kami untuk membelokkan langkah, kami mengikuti hawa nafsu kami untuk menyusuri persimpangan tadi yang ternyata jalan ke arah observatory deck, ahhh, kami menemukan satu tempat yang menarik lagi, sayang bukan hanya kami yang berada disitu, sehingga kami tidak bisa puas berfoto. Tempat inipun tidak luput dari tangan-tangan jahil yang menuliskan tanda cinta dan jadiannya di pagar pembatas observatory deck itu, fuckkk, siapa juga yang mau tahu tanggal kalian jadian, kenal saja tidak. Saya doakan semoga cepat putus dan tidak lupa menghapus tanda yg kalian tulis di pagar, amiin.
Mari doakan cepat putus, Amiin
Kami kembali ke jalan yang lurus, dan akhirnya setelah beberapa langkah kami sampai di jembatan besar tadi. Banyak manusia larut dalam aktifitasnya masing-masing, ada orang yang sedang foto pre wedding, ada orang nongkrong dan duduk duduk di samping jembatan, dan ada banyak yang berfoto-foto di jembatan panas ini. Ya, jembatan ini benar-benar panas terik karena sudah hampir tengah hari.
Pantai ???
Tidak mau berlama-lama, kami akhirnya putar balik untuk menuju pantai. Ya, disini disebutkan ada pantai, dan kami sangat berekspektasi tinggi mengenai pantai ini. Kami kembali ke jalan aspal besar tadi dan melangkah mengikuti petunjuk arah ke pantai, setelah beberapa langkah dan 20 kali salto kami sampai di jalan kayu kembali, dan kali ini terbagi 2 persimpangan, kiri dan kanan. Kami sepakat untuk mengambil jalan ke kanan karena kami tak mau berpisah disini. Ehemm,keadaan jalan dari kayu ini cukup sempit sehinggi jika berpapasan dengan orang dari arah berlawanan, kami harus berjalan miring, keadaan sekitar sama dengan jalan kayu yang telah kami lalui tadi, banyak sampah. Kami berjalan sampai ujung, dan di ujung jalan tadi ada gazebo dengan beberapa keluarga yang duduk-duduk menikmati angin sepoy-sepoy, kami berjalan melewati gazebo tadi sehingga jalan setapak kayu berganti jalan setapak dari tanah, kami menoleh ke kiri dan kanan lalu berpandangan seraya berkata, MANA PANTAINYAAA??.

PS : setelah saya menelusuri melalui google maps, ternyata sedang ada reklamasi. Sehingga teluk Jakarta yang seharusnya terlihat dari pantai tadi berganti pemandangan menjadi tanah kosong dengan excavator yang sedang bekerja dan juga ada truk-truk besar.

Cara dan biaya ke Hutan Manggrove PIK :
1. Naik Busway koridor manapun ke halte monas.

2. tunggu dengan sabar BKTB ke Pantai Indah Kapuk, menunggu bis ini tidak selama kamu menunggu jodoh yang tak kunjung datang

3. naik BKTB dengan kaki terlebih dahulu dan dengan melangkah, bukan salto apalagi kayang. Setelah naik bayarlah sesuai harga yang berlaku, setelah itu nikmati perjalanannya

4. Mas-mas penjaga BKTB tahu kalian harus turun dimana jika ingin ke Hutan mangrove, maka dari itu sampaikan tujuan kamu ke dia, tolong dengan baik-baik dan jangan dengan mengedipkan mata, apalagi jika kamu adalah lelaki.

5. setelah sampai gerbang jangan berbicara dengan bahasa inggris atau india, atau bahasa selain bahasa Indonesia, karena tiket masuk akan berubah menjadi 10x lipat untuk WNA.

Perincian biaya :
Tiket busway                    : Rp. 2.000 (pukul 05.00-07.00)
                                            Rp. 3.500 (pukul 07.01 – tutup)
Tiket BKTP PIK               : Rp. 2.500
Tiket masuk                      : Rp. 25.000
Total  PP                           : Rp. 33.000 / Rp. 37.000

Tips :
1. Bawa uang dan niatkan pergi kesini

2. bawa sunblock dan air mineral dan anti nyamuk semprot, bukan bakar apalagi elektrik, ini serius karena banyak nyamuk beneran, bukan kamu yang disebut nyamuk karena menjadi figuran temanmu dan pacarnya yang memadu kasih disana, jika itu benar-benar terjadi, maka semprotkan obat nyamuk tadi ke dirimu

3. bawa makanan kecil atau bekal, karena harga makanan disini tidak jelas, saya membeli teh botol seharga Rp. 8.000, setelah sebelumnya bertanya ke tiga orang pelayan berbeda, pelayan pertama mengatakan harganya 12rb, pelayan kedua 10rb, setelah pelayan ketiga baru menjadi 8rb.

4. waktu terbaik untuk kesini adalah pagi, sekitar jam 7-11, karena belum banyak orang sehingga bisa bebas mengambil foto, dan juga udara belum terlalu terik. Atau pukul 14 s/d sore untuk melihat sunset.
BKTB PIK
*BKTB : bus kota terintegrasi Busway

Life memories :





No comments:

Post a Comment

comment anda adalah motivasi saya untuk lebih baik dalam menulis