Skip to main content

Just Another 2 Negara 3 Kota (Episode 3 : Goergtown Penang )

Setelah menjelajah dan melihat isi Fort Cornwallis, gw melanjutkan melangkah ke arah salah satu world heritage Site oleh Unesco, yaitu Goerge town. Dan backpacking gw di penang pun berlanjut.

Gw keluar ke arah kanan dari gerbang tempat gw masuk tadi, kembali ke arah pantai. Lalu menuju ke kiri, gw melewati sebuah taman dipinggir laut yang sepertinya enak untuk duduk-duduk santai, tapi gw lebih memilih melanjutkan perjalanan, setelah beberapa langkah gw sampai di salah satu monument yang bikin hati agak miris. Monument itu adalah War Monument, yaitu monumen untuk memperingati perang yang sudah terjadi, ada perang dunia 1, perang dunia 2, dan perang dalam negeri Malaysia, termasuk konfrontasi Indonesia – Malaysia.

“ Perang mungkin membuat kepuasan batin karena bisa saling mengalahkan, tapi yang tersisa dari egoisme masing-masing hanyalah kehancuran.”
Di seberang War Monument terdapat sebuah gedung megah yang bergaya victoria, gedung tersebut terlihat terawat dengan cat putih bersih seperti baru tanpa coretan vandalisme di dindingnya, dan mungkin masih dalam bentuk aslinya.  Gedung tersebut adalah Penang Municipal Town Hall (kalo mau tau ini apa, ada kok di google, cari sendiri ya). Setelah mengagumi gedung tua dan terawat tersebut gw melanjutkan langkah ke arah Jalan Masjid Kapitan Keling, untuk mencari salah satu landmark penang lainnya, yaitu Masjid Kapitan Keling.
War Monument
Penang Municipal Town Hall
Sebenernya gw berniat untuk solat jumat disini, tapi berhubung waktu solat jumat masih 3 jam lagi akhirnya gw memutuskan untuk mencari street art dalam marking Goergetown.

#Marking Goerge Town are tour around Goerge Town to discover the unique wrought-iron caricatures with anecdotal descriptions of the streets that they adorn

Jadi singkatnya Marking Goerge Town ini adalah street art yang dibikin dari besi atau lukisan, yang menunjukkan deskripsi dari jalan tempat street art itu berada. Ada banyak street art di Goerge Town ini, kalo mau tau jumlahnya ada berapa dan deskripsinya apa, lo bisa liat di brosur wisata yang bisa diambil di bandara.

Gw melewati jalan Masjid kapitan keling dan melihat landmark pertama, yaitu Kuil Kuan Yin, gw ga masuk tempat ini walaupun penasaran, kenapa??, karena banyak orang lain yang sedang berdoa disini, dan gw ga mau ganggu ritual ibadah mereka. Gw melanjutkan berjalan ke arah selatan, ke ujung jalan dimana masjid ini berada. Sepanjang jalan ada beberapa street art yang gw lewati, dan  gw ga menyianyiakan kesempatan bernarsis. Sesampainya di Masjid yang dituju, pintu gerbang pagar luar masih ditutup, untung gw membatalkan niat solat jumat disini, jadi ga bingung nunggu dimana.
Kuan Yin Temple
Some Of The Street Art


Masjid Kapitan Keling
Gw kembali melihat peta untuk menemukan kitab suci salah satu Street art terkenal, yaitu kids on bicycle. Gw terus jalan ke arah selatan, di gang kedua arah selatan mesjid kapitan keeling gw belok ke kiri, di ujung jalan gw menemukan apa yang gw cari, Street art Kids on Bicycle, cukup mudah, yang sulit adalah mendapatkan  area yang kosong untuk mengambil foto, karena banyak orang yang sudah mengantri, jadi kalo gagal dapet gambar yang bagus ya harus ngantri lagi karena banyak yang udah nungguin. Ceklik, ceklik, ceklik, tiga kali percobaan pertama gagal, gw harus ngulang ngantri lagi, ceklik, ceklik, percobaan kedua juga gagal ngambil foto selfie. Akhirnya gw nyerah, gw minta tolong sama turis lain yang juga ngantri buat ngambilin foto, sebagai gantinya, gw harus striptease ngambil foto mereka sekeluarga, deal yang cukup adil.
The Famous Kids On bicycle
Setelah capek pusing-pusing nyari street art lain, perut gw udah mulai keroncongan. Gw memutuskan balik ke komtar buat makan salah satu masakan khas penang yang kata orang belum ke penang kalo ga makan itu, makanan itu adalah nasi kandar. Gw nunggu bis CAT di  salah satu bus stop yang Cuma ditandai oleh rambu yang ukurannya agak kecil, kalo lo ga jeli bakal kelewatan. Gw udah menyiapkan diri buat nunggu lama karena ini adalah bis gratis, dalam pikiran gw yang namanya bisa gratis pasti armadanya dikit. But lucky me, setelah kurang dari 10 menit bis dateng, dan gw bisa ngadem didalem bis. Bis ini tujuan akhirnya di jetty, setelah sampai jetty gw turun dari bis (lah kok turun??, katanya mau ke komtar), tenang  sodara-sodara, gw Cuma pindah bis, karena jetty ini semacam terminal, jadi bis yang gw tumpangin tadi ada di antrian bis paling belakang. Gw melanjutkan perjalanan ke komtar dengan naik ke bis di antrian paling depan.

Sepanjang jalan terlihatlah bagaimana goerge town, kota dengan bangunan-bangunan tua yang sangat terawat. Banyak bangunan tua tersebut yang dijadikan perkantoran baik oleh swasta ataupun pemerintah.

#Marking Goerge Town adalah salah satu promosi pariwisata yang berhasil. Mudah-mudahan pemda di kota-kota Indonesia juga bisa melihat potensi wisata daerahnya, dan mempromosikan daerahnya dengan baik. salah satu kota yang menurut gw bisa dijadikan wisata kota tua seperti penang ini adalah Surabaya.

Sesampainya di Komtar, gw makan di salah satu ruko deket situ. Nasi kandar adalah, nasi dan lauk khas India peranakan. Nasi yang sudah ditanak dengan rempah, disiram oleh kuah kari kental, ditemani sayuran dan lauk yang bisa dipilih. Gw makan nasi tomat dengan sayuran yang dimasak dalam kuah kari dan ayam goreng. Entah kenapa gw selalu suka ayam goreng melayu ini, bumbunya gurih dan enak diemutin sampe tulangnya. Harga makanan ini sekitar 13 ringgit karena plus minum teh tarik.
Belum ke Penang kalo belum makan ini, Nasi Kandar
Karena waktu udah hampir memasuki saat solat jumat, gw berhenti dari aktifitas sejenak untuk solat Jumat, mesjid di penang ini cukup banyak. Gw solat di mesjid yang deket sama tune hotel, Nama Mesjidnya adalah Mesjid Jamek Titi Papan. Di mesjid ini gw menemukan budaya baru, kalo biasanya mesjid di Indonesia nyediain minuman gratis, yaitu air mineral gelas, disini yang disediakan adalah pisang ambon. Sebagai traveler kere ya gw ambil 1 biji, trus gw masukin tas buat bekel nanti malem, kalo-kalo gw ga nemu makanan halal di Hat Yai.
Di Plastik Kuning itu isinya pisang
Setelah solat Jumat, gw melanjutkan jalan-jalan lagi. kali ini tujuan gw adalah Jl. Penang. Disini adalah tempat kalo lo mau belanja oleh-oleh, banyak baju-baju dan aksesoris lain yang biasa dijadiin oleh-oleh, seperti gantungan kunci dijual disini. Ga banyak yg gw beli disini, gw beli kopi penang (penang cukup terkenal karena kopinya yang enak), dan the tarik buat istri. Setelah panas-panasan belanja, gw nyari cendol legendaris, setelah itu gw mutar muter aja sekitar komtar, sekalian mijit. Tentu saja gw mijitnya di kursi pijit, bukan sama cewe di spa, karena gw adalah backpacker syariah.

Boleh kakak pijitnya, 1 ringgit 3 menit
Sekitar 20 menit sebelum jam keberangkatan, gw udah duduk manis di travel menunggu Minivan. Banyak juga bule-bule yang nunggu disitu, tapi mereka akan ke Kuala Lumpur naik double decker bus. Tepat 5 menit sebelum jam 3, Minivan gw dateng. Gw naik dengan tampan dan duduk disamping jendela. Minivan ini kayak elf, tapi didalemnya lebih bagus dari travel Jakarta-bandung, didalem disetel music dengan bahasa yang gak gw kenal, entah bahasa Thai atau Cina gw gak ngerti. Perlahan pasti minivan ini meninggalkan komtar untuk menuju ke Terminal Sungai Nibong dan Malaysia Sains University untuk menjemput penumpang selanjutnya, setelah minivan ini penuh, perlahan dan pasti gw meninggalkan Penang melewati Penang Bridge untuk menuju Thailand, tepatnya Hat Yai.

Comments

Popular posts from this blog

Tips Ngegembel : Tidur di Bandara part 2 (KLIA 2, DON MUEANG, HANEDA)

First Family Travelling : Pengalaman Vaksin di Kuala Lumpur

Babymoon : Jepang, Sebuah Permulaan