Skip to main content

Just Another 2 Negara 3 Kota (Episode 2 : Fort cornwallis)

Cerita backpacking penang gw berlanjut, supaya lebih nyambung, ada baiknya baca yang episode 1 dulu.

Sebenernya pagi ini gw berniat bangun jam 5, tapi apa daya, gw kebangun 1 jam lebih lambat, yaitu jam 6. Di penang zona waktu yang dipakai adalah GMT+8, jadi jam 6 disana itu masih subuh dan gelap. Gw langsung aja bengang bengong ga jelas ngumpulin nyawa, abis itu gw langsung packing dan mandi, lalu tanpa membantu ibu membersihkan tempat tidur gw langsung check out dan mencari dimana travel tempat gw akan naik minivan ke Hat Yai.

Lokasi New Asian Travel ini agak nyempil, tapi insting seorang petualang selalu bener, dengan sekali belok gw langsung menemukan dimana lokasi travel ini. Ngapain hayo gw disini, ada yang  tau ga??. Bukan, gw disini bukan untuk ngelamar jadi supir bis, atau ngelamar yang jaga, karena yang jaga disini kakek-kakek . gw disini buat nitip tas ransel, jadi gw bisa jalan-jalan tanpa beban.

Setelah tas aman, gw menuju tujuan pertama, yaitu fort Cornwallis yang ada Goergtown. Fort Cornwallis ini adalah benteng perang yang dibangun oleh inggris. Dari komtar gw memanfaatkan bis gratis yang bernama CAT, kenapa namanya CAT yang kalo diartikan ke bahasa Indonesia adalah kucing, gw ga tau dan ga mau tau, selama bis gratis ya bodo amat mau dinamain apa, haha. Bis ini nyaman, pake AC dan berhentinya di halte yang strategis di landmark goergtown , rada ngebut, mungkin karena kebelet kali supirnya.

Gw turun di halte bis tepat sebelum benteng ini, jalan beberapa langkah ke arah benteng, lalu belok kiri menelursuri tembok benteng ketemulah pintu masuk disitu. Gw ga langsung masuk karena gw ngeliat pantai, insting gw langsung menuju kesana untuk duduk-duduk santai dipinggir pantai. Entah ngapain, gw ga ngerti, saat itu gw Cuma pengen menikmati salah satu hasil ciptaan yang maha kuasa yang disebut lautan. Dari sini gw bisa langsung melihat selat malaka.

#random : entah kenapa bau lautan selalu membuat gw tenang, sayang sekali pantai di Jakarta ini untuk masuknya kita harus bayar, kalo gratis pasti gw akan menulis cerita ini disana.
#random
Setelah puas menikmati udara lautan, gw melangkahkan kaki ini ke pintu gerbang fort Cornwallis. Di pintu gerbang tertulis harga tiket untuk turis asing sebesar 30 ringgit. Cukup mahal juga, tapi gw tetep masuk karena pengen aja, ga tau kenapa, haha. Setelah membayar gw mendapatkan sebuah gelang kertas sebagai tanda masuk, juga mendapatkan sebotol air mineral.
At the gate


Gw memulai eksplorasi dengan berbelok ke kanan. Di pojok benteng ini gw menemukan sebuah chapel atau gereja tua yang sudah difungsikan sebagai video room. Didalam ruangan chapel yang agak pengap terdapat sebuah layar besar yang menayangkan sejarah penang beserta fort Cornwallis ini. Gw ga lama-lama disitu karena bulu kuduk gw merinding, dan ada perasaan ga nyaman karena suasana ruangan yang agak pengap walaupun sudah diberi pendingin udara.

Lalu gw melanjutkan ke ruangan samping chapel, disini gw menemukan ruangan seperti penjara yang sudah direnovasi, sehingga tidak ada jeruji lagi yang menghalangi. Disini tidak ada apa-apa kecuali tulisan informasi mengenai sejarah penang yang ditaruh di dinding dan tengah ruangan, setelah membaca sedikit gw melanjutkan ke ruangan berikutnya. Diruangan berikutnya kembali tidak ada apa-apa selain tulisan informasi lagi, tapi periode informasi yang diberikan adalah setelah periode di ruangan sebelumnya. Dari sini udah bisa ketebak kan, diruangan berikutnya ada apa lagi, ya kalian benar, diruangan selanjutnya ada informasi mengenai penang di periode yang lebih modern, begitu pula selanjutnya dan selanjutnya. Gw ga baca seluruh informasi itu, karena selain  informasi tersebut pasti disediakan oleh Wikipedia,  bahasa yang digunakan adalah bahasa inggris, sehingga gw agak males buat bacanya.

Setelah melewati ruangan terakhir yang juga ujung benteng, gw menaiki tangga untuk ke lantai atas benteng. Gw berbelok ke kanan ke arah chapel, tapi sekarang melewati atas ruangan-ruangan penjara tadi. Sepanjang jalan hanya ada rumput dan foto-foto penang dan fort Cornwallis tempo dulu, setelah sampai ujung kita bisa melihat Queen Victoria Memorial clock tower yang ada di tengah jalan, sepanjang mata memandang, landscape didominasi oleh bangunan tua yang masih terawat.
Clock Tower
Gw kembali berjalan menuju tangga tempat naik tadi, di ujung yang lain ada menara tempat layar dari kapal tua, entah kenapa ada disitu gw ga tau karena area tersebut dikasih pagar dan ada tanda dilarang masuk. Gw malanjutkan jalan ke arah kiri, gw melewati sebuah jembatan kayu yang dibawahnya ternyata pintu masuk benteng di sisi timur. Setelah foto-foto dan melewati jembatan ini, sampailah gw di ujung benteng, lalu gw kembali menjelajah ke arah kiri, di sisi ini banyak meriam belina tua dan foto-foto penang di masa lalu. Sampai diujung ada semacam teras yang letaknya lebih tinggi dari bagian benteng yang lain, dari teras tersebut terlihat lebih jelas selat malaka yang membentang.


kenapa ada disitu ya??

burung jalak kah??






Sebelum tangga turun, disebelah kanan ada bangunan yang dari informasi adalah sebuah gudang senjata. Sayang bangunan tersebut seperti tidak terawat dan gerbang masuknya dikunci. Gw menuruni tangga tersebut sehingga gw kembali sampai di lapangan luas, posisi gw ada di sebelah kiri pintu masuk. Dibagian bawah ini ada sebuah panggung dan bangku penonton yang berundak, lalu ada juga toilet. Setelah cukup lelah menelusuri benteng ini dari ujung ke ujung, gw duduk di salah satu bangku yang banyak tersebar di area lapangan tengah benteng ini. Gw duduk beristirahat sekaligus membuka peta, untuk melihat kemana lagi kaki ini melangkah..


Comments

Popular posts from this blog

Tips Ngegembel : Tidur di Bandara part 2 (KLIA 2, DON MUEANG, HANEDA)

First Family Travelling : Pengalaman Vaksin di Kuala Lumpur

Babymoon : Jepang, Sebuah Permulaan